Rabu, 15 Agustus 2007

Mari sama-sama JUJUR


My brother and sist...
Diatas segala maaf ku untuk mu, kita harus senantiasa bergandengan tangan, bahu - membahu, dan kesadaran kolektif itu harus terus sama-sama kita asah bersama. Sebab ada keniscayaan kerja sama untuk membangun lagi iman kita yang koyak yang harus segera kita luruskan.
Kita pun harus sama-sama JUJUR. Di tempat kita berpijak begitu banyak saudara kita yang belum juga menuhankan Allah dalam makna yang seutuhnya. Tentu dalam pandangan kaca mata Islam hal ini tidak dapat dibenarkan. Budayawan menyebutkan bahwa bencana seperti tsunami sebagai tangan Tuhan yang meluluhlantakkan dan membersihkan segala apa yang belum kita bersihkan. Bagaimana mungkin secepat itu kita kotori lagi dengan kemusyrikan di atas sesaji-sesaji itu...?
Kita semua mestinya mulai belajar, bahwa bila laut membawa tsunami, itu hanya titah Ilahi. Sebagian saudara kita mungkin tenang beristirahat di alam keabadian, namun tidak sedikit pula yang pergi dengan tidak tenang. Kita harus meninjau kembali peran-peran kita, yang mungkin mengundang datangnya musibah itu,kecil maupun besar. Bukankah musibah bencana,bisa saja datang menimpa orang yang shalih sekalipun?, ketika mereka tidak atau kurang peduli menyerukan saudara-saudaranya kepada kebenaran?
Mari kita lihat kembali saudaaraku..., tentangmusibah demi musibah, cobaan demi cobaan, kejadian demi kejadian yang kadang terjadi di luar nalar dan akal sehat kita, kegagalan demi kegagalan, yang datang tak juga mamp[u menembus ego untuk mengakui adanya kekurangan yang telah kita perbuat. Musibah yang tak mampu membongkar kesombongan, pengakuan atas kelalaian dan kedurhakaan. Kegagalan yang tak membuka pintu kesadaran akan kesalahan dan kemaksiatan. kesulitan demi kesulitan yang tak juga menjadi peringatan penting diri mengakui ketidakberdayaan di hadapan Allah Ynag Maha Kuasa.
Kita harus mencuci iman kita yang kumuh. Mereparasi kualitas ibadah, menyebut namaMu dalam Doa. Sungguh...dalam perih yang masih dan masih...kita mungkin sedang berjuang untuk lupa. Melupakan pedih dan duka yang terus bergelayutan dalam tatapan.Tapi itu bukan menjadi satu alasan untuk saling melupakan satu kenyataan tentang ketundukan ketuhanan,kepatuhan moral,dan kelayakan ibadah yang menjadi pilar penopang hidup kita.
Pada akhirnya, apa yang diberikan Allah kepada kita tak pernah salah. Alam dan segala kejadiannya tetaplah suatu yang benar. Mereka tidak pernah salah. Inisiatif kesadaran itu harus datang daari lubuk hati kita masing-masing. "it's not their intention to teach us, but it is our intention to leaarn from them" Buka keharusan mereka untuk mengajari kita,tapi kewajiban kita untuk belajar dari mereka.

Dalam renungan.....
(K10, 13 Agustus 2007)

Tidak ada komentar:

Ahlan Wa Sahlan...

Terimakasih telah berkunjung...
Ngintip ya...
truzzz...
isi comment...