Kamis, 16 Agustus 2007

BIARLAH CINTA BERBUAH CINTA



Rasulullah tertawa menyaksikan Aisyah dan Saudah saling bertengkar dan saling menimpuk wajah mereka dengan kue, atau ketika Ummu Salamah menjawab refleks pertanyaan Anas bin Malik tentang Rasulullah SAW yang selalu refleks mencium Aisyah tapi tidak begitu dengan beliau. Kita belajar bahwa cinta memiliki mekanismenya sendiri dalam menyelesaikan masalah-masalahnya.

Mereka membiarkan sebagian masalah terjadi, tanpa menghiraukan untuk menyelesaikannya. Apalagi memikirkannya. Karena menurut kacamata saya bahwa tidak semua masalah dapat diselesaikan dan harus diselesaikan. Ada hal-hal yang dapat selesai dengan sendirinya tanpa harus difikirkan dan diselesaikan/dicari jalan keluarnya.

Dalam hidup ini, ada satu sudut dimana di situlah kita dapat menemukan sebuah ruang pembebasan atau ”sebuah ruang pelepasan jiwa” , saat berdiri di sudut tersebut terkadang kita harus “tega” menyaksikannya untuk lepas bebas disertai keyakinan dengan cukup”yakin” bahwa ia akan tenang kembali dengan sendirinya.

Ketika Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa menangis itu bagus untuk kesehatan jantung anak-anak, sebenarnya menangis juga bagus untuk perempuan, khususnya untuk kehalusan kulit mereka ( tapi keseringan menangis juga tidak baik ). Jadi dibutuhkan adanya keyakinan dan sedikit ketegaan.

Sama halnya bila kita analogkan dengan badan yang sehat. Badan yang sehat memiliki mekanisme pertahanan tersendiri dalam menghadapi berbagai penyakit-penyakit yang menyerang tubuh (system imunitas). Jadi tidak semua penyakit harus dibawa ke dokter,namun tidak berarti bahwa bukan karena merasa sehat maka kita merasa tidak memerlukan seorang dokter (kalu begitu saya dan teman-teman sejawat saya tidak punya pasien donks).

Nah…..begitu pula dengan cinta. Cinta punya mekanismenya sendiri. Ya…semacam toleransi bahwa ada beberapa masalah-masalah yang muncul yang tidak mengancam dan berpotensi jangka panjang. Namun hanyalah segelintir riak hiasan di tengah keteduhan laut cinta yang mengharu biru (he..he..cie ..i…le..). Namun, dibalik semua itu, masalah tersebut justru berberkah indah. Misalnya, cemburu. Cemburu kadangkala keluar dan dibahasakan dengan sebuah tudingan atau tuntutan, namun nun jauh dibalik kedalaman lautannya ia membangun sebuah kesadaran bagi pelakunya untuk lebih banyak bermuhasabah (introspeksi) diri dengan lebih baik. Mengapa?? karena sebuah kecemburuan akan berbaur dengan cinta, dicampur dengan rasa malu, egois, yang pada akhirnya juga akan keluar cinta. Walaupun mungkin sudah babak belur dengan berbagai pembahasan.

Semua yang tumbuh dari benih cinta pada akhirnya akan berbuah cinta juga. Ujian terberat dari seorang pecinta sejati adalah keyakinannya terhadap kesejatian cintanya sendiri, dan keyakinannya pada kekuatan cinta untuk terus-menerus melahirkan kebaikan-kebaikan, amalan-amalan shaleh, yang tampak dari sebuah manajemen keyakinan.


Dalam keyakinanku akan cintanya. kepadaNya.

(Maros, 07/08/15)

Tidak ada komentar:

Ahlan Wa Sahlan...

Terimakasih telah berkunjung...
Ngintip ya...
truzzz...
isi comment...