Di kutip dari buku 'Fulfilling life'
SUATU malam ketika hujan lebat, seorang penunggang kuda berhenti di pinggiran sebuah hutan tidak jauh dari tepian sungai. Dia ingin berteduh. Setelah mencari, akhirnya dia menemukan sebantang tongkat panjang dan menancapkannya kuat-kuat, sehingga kudanya bisa ditambatkan di sana. Keesokan harinya ketika akan memulai perjalanan kembali dia berfikir bagaimana dengan tongkat ini, apakah dibawa? “Ah, biarkan saja di sini, siapa tahu ada penunggang kuda yang lain yang bernasib sama dengan saya dan mau menggunakan tongkat ini!”. Lalu ida pun meneruskan perjalanannya.
Tak lama kemudian lewatlah seorang petualang yang akan merambah hutan. Melihat tongkat yang berdiri tegak tertancap di tanah dia berfikir, ini akan membahayakan orang lain yang lewat apalagi jika malam hari, tentu akan tersandung. Dia pun mengubah posisi tongkat tersebut, digeletakan ke sisi lagi sehingga tidak menggangu pejalan kaki dan dia pun meneruskan perjalanannya bertualang.
Berikutnya lewat seorang pemancing yang akan memancing ikan tidak jauh dari tempat tersebut. Melihat ada sebuah tongkat panjang yang tergeletak di pinggir jalan, dia langsung berteriak, “Aha… sudah dari tadi aku mencari tongkat untuk mengukur kedalaman sungai sehingga aku bisa memancing ke tengah sampai batas pinggang akhirnya ketemu juga!”
Dia pun membawa tongkat tersebut lalu dipakainya untuk mengukur kedalaman tepian sungai, agar dia bisa mendapatkan ikan yang lebih besar dengan memancing agak ke tengah sungai. Akhirnya memang benar, sang pemancing mendapatkan ikan yang cukup banyak dan besar-besar berkat tongkat panjang tersebut dengan muka berseri-seri, dia pulang sambil mengucapkan terima kasih kepada “tongkat” yang berjasa menolongnya untuk mengukur kedalaman tepian sungai. Selanjutnya, dia berfikir tongkat tersebut ridak akan dibawa pulang, namun dibiarkannya saja tergeletak di tepi sungai tersebut, siapa tahu ada pemancing lain yang membutuhkan agar suka-cita yang dirasakannya sekarang karena memperoleh banyak ikan dapat juga dirasakan oleh pemancing yang lain kelak. Tongkat pun digeletakan di tepi sungai, lalu dia pergi membawa ikan hasil pancingannya.
Selang beberapa hari kemudian, tidak ada seorang pun yang melewati daerah tersebut dan tongkat pun tergeletak saja di tepi sungai. Semakin hari, kayu tersebut semakin kering. Hingga lewatlah seorang lelaki pencari kayu yang sudah ke sana kemari belum menemukan kayu kering. Kayu itu akan untuk dijadikan kayu bakar untuk menanak nasi bagi keluarganya. Semua kayu yang diperoleh kurang bagus untuk memasak, hingga dia menemukan sebatang tongkat untuk dijadikan kayu bakar. Dengan menggunakan parangnya, kayu tersebut dipotong-potong untuk dijadikan kayu baker di rumahnya.
--------------------------------------------------------------------------------
Sesungguhnya apa yang kita miliki saat ini, hanyalah bersifat sementara, sehingga rasanya agak berlebihan jika seseorang mengklaim bahwa apa yang dimilikinya saat ini adalah miliknya yang abadi selamanya. Tidak ada satu orang pun di dunia ini bisa memiliki segala sesuatu tanpa sepengetahuan dan se-izin Sang Khalik. Dia yang memberi, Dia pula yang dapat mengambilnya dalam sekejap.
Itulah sebabnya, semakin sesorang menerima dan memiliki segala sesuatu, baik fisik (harta) maupun non fisik (jabatan, gelar, kompetensi) seyogianya harus semakin hidup rendah hati, dan syukur. Sudah saatnya, apa yang dimiliki dibagikan kepada orang lain, agar orang lain pun dapat merasakan berkah Sang Khalik melalui uluran tangan kita.
Orang yang memberi tidak akan pernah kekurangan. Namun, mereka yang sulit memberi (pelit) justru akan selalu merasa kekurangan dan ketakutan. Di dalam pemberian ada kebahagiaan dan kebersamaan. Melalui pemberian, kita menyadari bahwa sesungguhnya manusia itu tidak sendiri dalam menjalani hari-hari kehidupannya. Bukankah segala sesuatu itu ada masanya? Ketika masa yang datang kurang menguntungkan dan menjadi beban (paceklik), bukankah Sang Khalik dapat menggunakan tangan orang lain untuk menolong kita?
Cerita di atas dalam konteks organisais berarti juga hubungan yang bersinambungan dengan kewenangan dan program kerja dari generasi ke generasi berikutnya. Ada banyak kasus, seseorang yang dipromosikan menduduki jabatan tertentu tidak memiliki program kerja dan blue print terhadap apa yang dilakukan. Walaupun setidaknya untuk mengamankan masa jabatannya tersebut.
Sebagai contoh, seorang manager produksi di sebuah pabrik; karena tidak memiliki blue print unit kerjanya, yang dipikirkan adalah bagaimana supaya selama menjabat manager produksi tersebut bisa menghasilkan produk sebanyak-banyaknya sehingga dia suatu saat dapat dipromosikan menjadi general manager karena prestasinya. Dia tidak pernah memikirkan, apa yang terjadi dengan unit kerjanya setelah dia tidak di situ lagi dan bagaimana pengkaderan yang sudah disiapkan untuk menggantikannya.
Demikian pula dengan peralatan-peralatan kerja yang ada (ibarat ‘tongkat’) dalam cerita tersebut. Ketika kita hendak meninggalkan suatu tempat, mari mulai memikirkan apa yang sudah kita perbuat untuk memudahkan orang lain setelah kita? Pengumuman di toilet pesawat terbang biasanya tertulis, “Mohon bersihkan toilet ini untuk kenyamanan penumpang berikutnya!” Setidaknya tulisan ini mengisyaratkan pada manusia, bahwa kehidipan ini sesungguhnya sangat berkaitan dengan orang lain dan rentang waktu tertentu. Namun demikian, mereka yang memiliki mental pecundang sulit untuk mengestafetkan tongkat yang dimilikinya. Mari kita lihat perbedaan pecundang dengan pemenang.
Perbedaan PEMENANG atau PECUNDANG dalam mengestafetkan tongkat.
- Pemenang selalu menjadi bagian dari jawaban,
Pecundang selalu menjadi bagian dari masalah.
- Pemenang selalu mempunyai program,
Pecundang selalu mempunyai alasan.
- Pemenang berkata, “Saya kerjakan bagi Anda.”
Pecundang berkata, “itu bukan tugas saya.”
- Pemenang selalu melihat jawaban pada setiap maslah.
- Pecundang selalu melihat masalah pada setiap solusi.
- Pemenang selalu berkata, “Walau sulit, tapi bisa dilakukan.”
- Pecundang berkata, “Mungkin bisa dilakukan, tapi sulit.”
Bukankah sejak kecil kita telah diajarkan oleh orangtua kita untuk bisa “meneruskan” buku-buku, alat tulis, atau pakaian kita kepada saudara kita berikutnya. Jika benda-benda tersebut masih bisa dipakai. Sekalipun bekas, penggunaan barang-barang tersebut dalam keluarga selain menghemat juga mencerminkan keterikatan emosiaonal sebagai suatu keluarga. Bahkan dalam kehidupan anak kost juga demikian. Jika ada seorang mahasiswa yang telah lulus dan akan pindah ke luar kota untuk kerja, biasanya dia “menghibahkan” barang-barang yang masih bisa dipakai (buku, lemari dan sebagainya) kepada adik angkatannya di kost-an tersebut. Situasi inipun akan menggambarkan nostalgia dan kebersamaan persahabatan yang sulit lekang ditelan zaman. Mengapa tidak kita coba.
Inside out (dari dalam menuju keluar), inilah yang diangkat oleh Albert Achweitzer dalam ceramahnya, “Apa pun yang anda terima lebih daripada yang lain – dalam hal kesehatan, dalam talenta, dalam kompentensi, dalam kesuksesan, dan kondisi rumah tangga dan karier, semuanya itu jangan dianggap sebagai suatu yang wajar. Dengan rasa syukur atas keberuntungan baik tersebut, Anda harus rela mengorbankan kehidupan demi kehidupan sesama.” Selamat mengestafetkan tongkat Anda!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Ahlan Wa Sahlan...
Terimakasih telah berkunjung...
Ngintip ya...
truzzz...
isi comment...
Ngintip ya...
truzzz...
isi comment...



Tidak ada komentar:
Posting Komentar