Senin, 28 April 2008

Cinta Lelaki Biasa

CINTA LAKI-LAKI BIASA (True Story)


Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan
kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu.
Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui,
gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya,
melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga,
dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang
yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.
Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah,
lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt.
Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas.
Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana.
Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik,
kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu.
Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.
Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli
untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul,
bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya
yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua,
disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa
dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo
dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar
anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik.
Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata
kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan
pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara,
masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa,
maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun,
tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana,
sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi.
Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.
Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang,
kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak,
dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka
atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka,
melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa,
berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi
menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia.
Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang
dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli.
Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya.
Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'.
Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania
menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli.
Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu,
masih sering berbisik-bisik di belakang Nania,
apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli.
Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli
agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli,
begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan,
tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania.
Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik,
tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes.
Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses.
Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya,
bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua.
Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti.
Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan.
Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak.
Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.
Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.
Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu.
Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya
yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga.
Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut.
Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.


Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa,
dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa,
tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia,
alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang,
uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu,
an Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra.
Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania,
bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih,
tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli.
Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak.
Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu,
tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania.
Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit
yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam,
mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit.
Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi,
dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur.
Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama,
Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan.
Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit.
Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit,
kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan.
Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah,
didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran
akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas.
Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya.
Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran.
Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi.
Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih.
Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter
itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak.
Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir,
telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya,
dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya.
Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.
Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!
Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali.
Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda.
Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh
darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya
ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak.
Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan,
fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari,
mereka sudah boleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit,
sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak,
mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit,
kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja
mengerti dan memberikan izin penuh.
oh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil,
dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat
dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka,
melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan,
pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah,
Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit,
mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra.
Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya
dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu.
Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan.
Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal.
Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania,
semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya.
Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur,
atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir,
kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik.
Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab.
Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania
dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata
yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.
Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir.
Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu.
Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah
dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania
seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur.
Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur.
Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu.
Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania,
membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia.
Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar.
Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop,
rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli,
melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya.
Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli
yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari.
Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan,
juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba,
namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang
penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi,
merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian.
Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik,
barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja,
bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka..
Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua,
anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati,
kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna.
Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia,
meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya.
Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

- Asma Nadia -

Kata-kata mutiara

(charlie chaplin);tidak ada yg abadi di dunia fana ini dan itu termasuk kesulitan yg kita hadapi

(francois de la rochefoucauld);ketika kita tak mampu menemukan kedamaian di dalam diri,maka mencarinya di tempat lain tak akan berguna

(ella fitzgerald);yg penting bukan dari mana anda berasal,tapi kemana anda akan melangkah

(jane austen);betapa cepatnya alasan2 datang untuk menyetujui apa yg kita suka

(voltaire);cintailah kebenaran dan maklumilah kesalahan

(ausonius);ia yg tak tahu cara diam,tak akan tahu cara berbicara

(antoine de saint-exupery);tujuan tanpa rencana hanyalah angan belaka

(isaac newton);kalau saya pernah menemukan sesuatu yg bernilai,itu karna perhatian dan kesabaran,bukan sekedar bakat

(george moore);manusia menjelajahi seisi dunia untuk mencari apa yg ia butuhkan dan kembali ke rumah untuk menemukannya

-reader digest

Di Balik Semua Permasalahan.....

Kebahagiaan adalah dambaan setiap orang. Dari cendikiawan yang seluruh waktunya dicurahkan untuk berfikir dan merenung sampai orang awam yang selalu memeras keringat membanting tulang; dari para raja yang bertahta dalam megahnya singgasana istana, sampai kaum papa yang berteduh digubuk tua; seluruhnya menginginkan agar kebahagiaan menjadi miliknya. Kiranya tak seorang pun yang dalam hidupnya menginginkan penderitaan.

Namun ternyata kebahagiaan yang dicitakan itu tidak mudah untuk diraih, dijalan itu Allah simpan ujian berupa permasalahan-permasalahan hidup yang bisa merintangi jalan menuju kebahagiaan tersebut. Permasalahan yang merintangi hadir dengan berbagai variasi tingkatan. Kadang permasalahan yang hadir mampu dihadapi dengan senyum berseri; namun, kadang-kadang muncul pula permasalahan yang dirasa amat berat berat menghinggapi perjalan hidup ini. Dan, bisa jadi membuat kita berfikir tak akan mungkin bisa diselesaikan saking dirasa sulit sekali.

Setiap permasalahan, pastilah mampu kita selesaikan. Karena Allah membuat setiap permasalahan atau ujian sesuai dengan kemampuan hamba-Nya, sebagaimana firmannya :

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…. “ (TQS. Al-Baqarah : 286)

Tidaklah hadir permasalahan-permasalahan hidup untuk menggapai kebahagiaan itu kecuali pastilah kita mampu untuk menyelesaikannya. Tak ada perkara yang tidak dapat kita selesaikan. Yang ada hanya kesabaran kita untuk mengikuti proses untuk penyelesaian masalah tersebut. Dan, proses penyelesaian masalah tersebutlah yang justru akan membawa kita pada kebahagiaan. Suatu kebahagiaan yang hakiki, karena disandarkan kepada Sang Ilahi Rabbi, Allah swt.
Karenanya, Sekiranya ada yang tidak lulus dari ujian-Nya, sesungguhnya itu lebih disebabkan kesalahan manusia dalam menyikapinya.

Ketidaksabarannyalah yang menggagalkannya mendapatkan kebahagiaan. Ketidakyakinannya bahwa segala permasalahan berasal dari Allah, justru yang menjadikan masalah itu menjadi pelik untuk dihadapi. Padahal, apabila kita berpandangan positif kepada Allah, terus meningkatkan kedekatan kita kepada Allah, meminta pertolongan hanyalah kepada-Nya, insya Allah masalah tersebut lambat laun akan terurai dengan rapi.

Disinilah kiranya kesadaran akan keberadaan Allah akan semakin terasakan. Kesadaran bahwasanya Kekuasaan Allah senantiasa lebih besar bila dibandingkan dengan kesulitan yang dihadapi manusia. Hanya Allah yang memiliki keajaiban pertolongan. Dan keajaiban pertolongan-Nya, hanya didapat oleh mereka yang percaya bahwa Allah berkehendak memberikan pertolongan. Kalau bicara bahasan ini, saya teringat perkataan Ust. Yusuf Mansyur* berkenaan dengan hal ini. Beliau berkata, “bicara Tentang Pertolongan Allah, itu bicara tentang kekuatan iman, itu bicara tentang keajaiban iman.” Firman Allah :
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (TQS. At-Takwir :29)
Lebih jauh beliau menjelaskan, hadirnya permasalahan hidup bagi manusia, akan memberikan nilai-nilai pencerahan bagi manusia, diantaranya :

1.Membangun optimisme, yang akan melahirkan keyakinan hanya kepada Allah tempat segala pengharapan.
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.(TQS. Al-Fatihah : 5)

2.Motivasi, yang akan melahirkan sifat tidak pernah merasa putus asa dari pertolongan Allah
“(kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri “(TQS. Al Hadiid: 23)

3.Menjadikan Allah sebagai wakil atas segala urusan di alam semesta
“Jika mereka sungguh-sungguh ridla dengan apa yang diberikan Allah dan Rasulnya kepada mereka, dan berkata :”Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dahn demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah(tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka) .”(TQS. At-Taubah : 59)

4.Tiada yang tak mungkin bila Allah berkehendak“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya “Jadilah”, maka jadilah ia.”(TQS.an-Nahl : 40)

5.Ketidakberdayaan manusia, akan melahirkan sifat kepasrahan penuh kepada Yang Maha Perkasa
“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak member pertolongan), maka siapakah yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (TQS. Ali Imran : 160)

6.Manusia sangat dhaif, akan melahirkan sifat syukur atas semua kehendak-Nya,
“Dan dia berdoa,” Ya Tuhanku, berilah aku ilahm untuk tetap mensyukuri nikmnat-Mu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridlai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh.” (TQS. An-Naml: 19)

Saudara, mengejar kebahagiaan di dunia dan akhirat bukanlah jalan mudah dan mengasyikan. Siap-siaplah seandainya beraneka macam permasalahan merintangi perjalanan. Bersabarlah dan Jadikan pertolongan Allah sebagai perbekalan.

Ingat, kita berhak dan bisa mendapatkan pertolongan Allah, asal kita sanggup meyakinkan Allah bahwa kita layak ditolong.
Wallahu a’lam


Catatan Tasqif Maret 2008

W A N I T A

Kaum feminis bilang susah jadi wanita, lihat
saja peraturan dibawah ini :

1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.

2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah, tetapi tidak sebaliknya.

3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.

4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.

5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.

6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat
pada isterinya.

7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.

8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan
nifas yang tak ada pada lelaki.

9. Dll.

Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya
berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN
WANITA ".

Tapi...Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)?

Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan di
tempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak
akan dibiar terserak bukan? Itulah perbandingannya dengan seorang
wanita.

Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat
kepada ibunya 3 kali lebih
utama daripada kepada bapaknya?

Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi
tahukah harta itu menjadi milik
pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara
apabila lelaki menerima warisan, ia perlu / wajib juga menggunakan
hartanya untuk isteri dan anak-anak?

Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi
tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat
dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia mati
karena melahirkan
adalah syahid dan surga menantinya?

Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap
4 wanita, yaitu: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara
perempuannya. Artinya,
bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4
orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya
dan saudara lelakinya.

Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang
mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu :
sembahyang 5 waktu, puasa di bulan
Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga
kehormatannya.

Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita
jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada
ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala
setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu
mengangkat senjata.


-email dari seorang teman-
Di kutip dari buku 'Fulfilling life'

SUATU malam ketika hujan lebat, seorang penunggang kuda berhenti di pinggiran sebuah hutan tidak jauh dari tepian sungai. Dia ingin berteduh. Setelah mencari, akhirnya dia menemukan sebantang tongkat panjang dan menancapkannya kuat-kuat, sehingga kudanya bisa ditambatkan di sana. Keesokan harinya ketika akan memulai perjalanan kembali dia berfikir bagaimana dengan tongkat ini, apakah dibawa? “Ah, biarkan saja di sini, siapa tahu ada penunggang kuda yang lain yang bernasib sama dengan saya dan mau menggunakan tongkat ini!”. Lalu ida pun meneruskan perjalanannya.

Tak lama kemudian lewatlah seorang petualang yang akan merambah hutan. Melihat tongkat yang berdiri tegak tertancap di tanah dia berfikir, ini akan membahayakan orang lain yang lewat apalagi jika malam hari, tentu akan tersandung. Dia pun mengubah posisi tongkat tersebut, digeletakan ke sisi lagi sehingga tidak menggangu pejalan kaki dan dia pun meneruskan perjalanannya bertualang.

Berikutnya lewat seorang pemancing yang akan memancing ikan tidak jauh dari tempat tersebut. Melihat ada sebuah tongkat panjang yang tergeletak di pinggir jalan, dia langsung berteriak, “Aha… sudah dari tadi aku mencari tongkat untuk mengukur kedalaman sungai sehingga aku bisa memancing ke tengah sampai batas pinggang akhirnya ketemu juga!”

Dia pun membawa tongkat tersebut lalu dipakainya untuk mengukur kedalaman tepian sungai, agar dia bisa mendapatkan ikan yang lebih besar dengan memancing agak ke tengah sungai. Akhirnya memang benar, sang pemancing mendapatkan ikan yang cukup banyak dan besar-besar berkat tongkat panjang tersebut dengan muka berseri-seri, dia pulang sambil mengucapkan terima kasih kepada “tongkat” yang berjasa menolongnya untuk mengukur kedalaman tepian sungai. Selanjutnya, dia berfikir tongkat tersebut ridak akan dibawa pulang, namun dibiarkannya saja tergeletak di tepi sungai tersebut, siapa tahu ada pemancing lain yang membutuhkan agar suka-cita yang dirasakannya sekarang karena memperoleh banyak ikan dapat juga dirasakan oleh pemancing yang lain kelak. Tongkat pun digeletakan di tepi sungai, lalu dia pergi membawa ikan hasil pancingannya.

Selang beberapa hari kemudian, tidak ada seorang pun yang melewati daerah tersebut dan tongkat pun tergeletak saja di tepi sungai. Semakin hari, kayu tersebut semakin kering. Hingga lewatlah seorang lelaki pencari kayu yang sudah ke sana kemari belum menemukan kayu kering. Kayu itu akan untuk dijadikan kayu bakar untuk menanak nasi bagi keluarganya. Semua kayu yang diperoleh kurang bagus untuk memasak, hingga dia menemukan sebatang tongkat untuk dijadikan kayu bakar. Dengan menggunakan parangnya, kayu tersebut dipotong-potong untuk dijadikan kayu baker di rumahnya.


--------------------------------------------------------------------------------
Sesungguhnya apa yang kita miliki saat ini, hanyalah bersifat sementara, sehingga rasanya agak berlebihan jika seseorang mengklaim bahwa apa yang dimilikinya saat ini adalah miliknya yang abadi selamanya. Tidak ada satu orang pun di dunia ini bisa memiliki segala sesuatu tanpa sepengetahuan dan se-izin Sang Khalik. Dia yang memberi, Dia pula yang dapat mengambilnya dalam sekejap.

Itulah sebabnya, semakin sesorang menerima dan memiliki segala sesuatu, baik fisik (harta) maupun non fisik (jabatan, gelar, kompetensi) seyogianya harus semakin hidup rendah hati, dan syukur. Sudah saatnya, apa yang dimiliki dibagikan kepada orang lain, agar orang lain pun dapat merasakan berkah Sang Khalik melalui uluran tangan kita.

Orang yang memberi tidak akan pernah kekurangan. Namun, mereka yang sulit memberi (pelit) justru akan selalu merasa kekurangan dan ketakutan. Di dalam pemberian ada kebahagiaan dan kebersamaan. Melalui pemberian, kita menyadari bahwa sesungguhnya manusia itu tidak sendiri dalam menjalani hari-hari kehidupannya. Bukankah segala sesuatu itu ada masanya? Ketika masa yang datang kurang menguntungkan dan menjadi beban (paceklik), bukankah Sang Khalik dapat menggunakan tangan orang lain untuk menolong kita?

Cerita di atas dalam konteks organisais berarti juga hubungan yang bersinambungan dengan kewenangan dan program kerja dari generasi ke generasi berikutnya. Ada banyak kasus, seseorang yang dipromosikan menduduki jabatan tertentu tidak memiliki program kerja dan blue print terhadap apa yang dilakukan. Walaupun setidaknya untuk mengamankan masa jabatannya tersebut.

Sebagai contoh, seorang manager produksi di sebuah pabrik; karena tidak memiliki blue print unit kerjanya, yang dipikirkan adalah bagaimana supaya selama menjabat manager produksi tersebut bisa menghasilkan produk sebanyak-banyaknya sehingga dia suatu saat dapat dipromosikan menjadi general manager karena prestasinya. Dia tidak pernah memikirkan, apa yang terjadi dengan unit kerjanya setelah dia tidak di situ lagi dan bagaimana pengkaderan yang sudah disiapkan untuk menggantikannya.

Demikian pula dengan peralatan-peralatan kerja yang ada (ibarat ‘tongkat’) dalam cerita tersebut. Ketika kita hendak meninggalkan suatu tempat, mari mulai memikirkan apa yang sudah kita perbuat untuk memudahkan orang lain setelah kita? Pengumuman di toilet pesawat terbang biasanya tertulis, “Mohon bersihkan toilet ini untuk kenyamanan penumpang berikutnya!” Setidaknya tulisan ini mengisyaratkan pada manusia, bahwa kehidipan ini sesungguhnya sangat berkaitan dengan orang lain dan rentang waktu tertentu. Namun demikian, mereka yang memiliki mental pecundang sulit untuk mengestafetkan tongkat yang dimilikinya. Mari kita lihat perbedaan pecundang dengan pemenang.

Perbedaan PEMENANG atau PECUNDANG dalam mengestafetkan tongkat.
- Pemenang selalu menjadi bagian dari jawaban,
Pecundang selalu menjadi bagian dari masalah.

- Pemenang selalu mempunyai program,
Pecundang selalu mempunyai alasan.

- Pemenang berkata, “Saya kerjakan bagi Anda.”
Pecundang berkata, “itu bukan tugas saya.”

- Pemenang selalu melihat jawaban pada setiap maslah.
- Pecundang selalu melihat masalah pada setiap solusi.

- Pemenang selalu berkata, “Walau sulit, tapi bisa dilakukan.”
- Pecundang berkata, “Mungkin bisa dilakukan, tapi sulit.”

Bukankah sejak kecil kita telah diajarkan oleh orangtua kita untuk bisa “meneruskan” buku-buku, alat tulis, atau pakaian kita kepada saudara kita berikutnya. Jika benda-benda tersebut masih bisa dipakai. Sekalipun bekas, penggunaan barang-barang tersebut dalam keluarga selain menghemat juga mencerminkan keterikatan emosiaonal sebagai suatu keluarga. Bahkan dalam kehidupan anak kost juga demikian. Jika ada seorang mahasiswa yang telah lulus dan akan pindah ke luar kota untuk kerja, biasanya dia “menghibahkan” barang-barang yang masih bisa dipakai (buku, lemari dan sebagainya) kepada adik angkatannya di kost-an tersebut. Situasi inipun akan menggambarkan nostalgia dan kebersamaan persahabatan yang sulit lekang ditelan zaman. Mengapa tidak kita coba.

Inside out (dari dalam menuju keluar), inilah yang diangkat oleh Albert Achweitzer dalam ceramahnya, “Apa pun yang anda terima lebih daripada yang lain – dalam hal kesehatan, dalam talenta, dalam kompentensi, dalam kesuksesan, dan kondisi rumah tangga dan karier, semuanya itu jangan dianggap sebagai suatu yang wajar. Dengan rasa syukur atas keberuntungan baik tersebut, Anda harus rela mengorbankan kehidupan demi kehidupan sesama.” Selamat mengestafetkan tongkat Anda!
Assalamualaikum................
Hari ini saya merenung,..akan kejadian2 yg telah lewat,baik itu hal2 yang baik dan positif juga yg sebaliknya.Usia manusia memang tak ada yang tahu kapan waktunya.

Saya jadi teringat semua salah dan dosa,jika saya memikirkan kematian,..tapi setel;ah saya larut lagi dalam kenikmatan duniawi apapun bentuknya saat itu pun saya lupa akan kematian.Astaghfirulloh.

Setiap Insan ,pasti ingin berusaha untuk selalu menjadi lebih baik,untuk selalu terus belajar dan memperbaiki diri dan amalan.

Masalahnya Bilakah saat kita akan menjemput ajal,kita sudah siap menghadapinya..?saya semakin larut bermuhasabah.

Saya jadi ingat sebuah syair yang tiba-tiba menyelinap dalam benak saya :

Wahai Tuhan ku tak pantas ke surga Mu
Tapi tak juga aku sanggup ke neraka Mu
Ampunilah dosaku
Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun
Terhadap dosa-dosa besar

Saya begitu terhanyut dengan syair ini.Mungkin inilah perasaan seorang yang telah membawa perubahan bagi kehidupannya.dari seorang yang berlumur dosa yg tlh tobat.
Yaitu,merasa tak patut mendapat surga dan pula tak sanggup menanggung siksa neraka.

mengingat syairnya saya mencoba membaginya (dari sikap orang kepada surga dan neraka)
menjadi empat kwadran.

> kwadran kelompok pertama yaitu mereka yang merasa(menurut penilaiannya sendiri) pantas masuk surga dan tak takut siksa neraka(audzubillah)

> kwadran kelompok kedua yaitu mereka yang merasa(menurut penilaiannya sendiri) pantas masuk surga dan takut siksa neraka.

> kwadran kelompok ketiga yaitu mereka yang merasa (menurut penilaiannya sendiri) tak patut masuk ke surga dan takut akan siksa neraka.

> kwadran kelompok keempat yaitu mereka yang merasa(menurut penilaiannya sendiri)tak patut masuk ke surga dan tak takut pula siksa neraka(audzubillah)

Ditengah gemerlap kehidupan dunia,dan penuh sesaknya kemaksiatan yg ada di depan mata,..mungkin beberapa bait dari untaian syair tersebut dapat menggelitik relung hati kita..

Semoga Allah SWT selalu menjaga tingkah kita dan selalu melindungi kita dari perbuatan tercela..amiin

Ahlan Wa Sahlan...

Terimakasih telah berkunjung...
Ngintip ya...
truzzz...
isi comment...